Rabu, 15 Februari 2017

Senin, 04 Juli 2016

Mengatasi Rasa Marah Bag. 2

Menilai Pemaknaan, Sudah Tepat atau Belum? dan Cara Merubahnya


Bicara soal menilai, berarti kita bicara soal acuan dalam untuk menilai, standard nilai. Yang kita anggap tepat belum tetap bagi orang lain. Tergantung standard nilai masing - masing.

Ada yang menggunakan kebebasan sebagai acuan menilai baik - buruk, ada yang menggunakan acuan agama islam, ada pula yang menggunakan acuan agama kristen. ada juga yang menggunakan budaya jawa sebagai acuan, budaya batak, budaya sunda, budaya barat, budaya islam, dll.

Disini saya tidak memperdebatkan mana yang baik dan mana yang buruk diantara acuan - acuan itu.

Tapi kita tetap butuh suatu acuan untuk menilai 'apakah pemaknaan kita sudah tepat atau belum".

Karena berbeda lingkungan maka berbeda budaya, berbeda pula acuannya dalam menilai, maka saya menggunakan budaya setempat sebagai acuan.

Jadi misalkan sobat berada di lingkungan berbudaya jawa, maka gunakanlah nilai - nilai jawa sebagai acuan. Demikian pula jika sobat berada di lingkungan berbudaya batak, sunda, berbudaya islami, berbudaya hindu, maka sobat harus menyesuaikan diri. Dan jika budaya di lingkungan sobat berlaku nilai - nilai campuran antara nilai jawa dan nilai islami maka sobat pun harus pandai - pandai memahami nilai campuran tersebut.

mengatasi rasa marah 2


Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Desa mawa cara negara mawa tata.

Agar pembahasan tidak melebar, disini saya tidak membahas bagaimana cara memahami nilai suatu budaya dengan tepat. Jadi saya anggap sobat maman sekalian telah lama berada di lingkungan tersebut dan telah paham betul bagaimana budaya di lingkungan yang sedang sobat tinggali.

Ringkas saja, berikut langkah - langkah menilai pemaknaan kita terhadap peristiwa pemicu rasa marah :

  1. Pahami dulu budaya setempat
  2. Ingat kembali peristiwa yang memicu rasa marah sobat
  3. Pahami kembali pemaknaan sobat terhadap peristiwa yang memicu rasa marah tersebut
  4. Bandingkan dengan budaya setempat, bagaimana jika orang lain (di lingkungan sobat) mengalami peristiwa yang sobat alami? Bagaimana pemaknaannya terhadap peristiwa tersebut?
  5. Apakah sama pemaknaannya sama dengan pemaknaan sobat? ataukah jauh berbeda? Semakin banyak kesamaannya semakin tepat pemaknaan sobat, sebaliknya semakin banyak perbedaannya maka semakin tidak tepat pemaknaan sobat.
  6. Jika pemaknaan sobat banyak yang berbeda, sebisa mungkin rubahlah pemaknaan sobat agar sesuai dengan budaya setempat. Tujuan utama dari perubahan makna tersebut adalah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, agar tidak terjadi perselisihan.
Untuk selanjutnya, apakah sobat menganggap pemaknaan awal sobat sebagai sesuatu yang keliru dan pemaknaan baru sobat tersebut sebagai sesuatu yang benar, atau apakah sobat menganggap pemaknaan awal sobat adalah suatu kebenaran etika dan budaya lingkungan setempat kurang beretika, ITU TERSERAH SOBAT.
Yang penting anda wajib beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana sobat hidup. Lain ladang lain belalang. Atau sobat akan terus - terusan dianggap buruk bahkan dimusuhi oleh masyarakat setempat, tapi kalau hal ini bukan suatu masalah bagi sobat, maka terserah sobat.
Baiklah untuk memperjelas langkah langkah diatas, mari kita simak contoh singkat berikut : (terinspirasi oleh pengalaman pribadi)

Pekerjaan utama saya adalah sebagai seorang QC (quality control) di perusahaan X. Di situ saya termasuk karyawan baru. Suatu ketika, saat saya melaksanakan tugas di salah satu bagian produksi, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, seorang atasan memarahi dan menempeleng kepala (mengenakan helm) bawahannya, entah apa sebabnya.

Walaupun itu tidak keras, saya sangat terkejut dengan kejadian itu. Setelah itu, entah apa yang ada dipikiran bawahan tersebut, dia pergi meninggalkan lokasi kerja.

Saya tidak terima dengan pemandangan itu, kemudian langsung menemui sang atasan. Setelah menjelaskan pemaknaan saya terhadap peristiwa penempelengan itu dengan tegas saya menyuruhnya minta maaf.

Tanpa banyak melawan, sang atasan itu mengiyakan permintaan saya. Eh setelah bawahan tadi datang, tiba - tiba ganti bawahan tersebut yang memarahi atasannya, "anjing lo, ngasih tugas yang bener dong, kalo kayak gini gimana ngambilnya??" sambil menudingkan telunjuknya ke muka sang atasan kemudian. menempeleng atasan terebut.

Dan mereka berdua tertawa terbahak - bahak bersama, layaknya seorang sahabat.

Aneh bukan?

Tidak ada yang aneh.

Setelah selang beberapa waktu, saya bertanya ke sang bawahan, "bro, kamu gak marah ditempeleng tadi?", tentunya tanpa sepengetahuaan si atasan.

"Hahaha.. kamu sok tahu bro, tadi si M (nama atasannya) juga cerita kalo kamu negur dia...", jawab si bawahan dengan tertawa bersahabat, "disini kita semua saudara, karena sangat akrab, kalau ada kesalahan ya begitu, maki - maki sampai menempeleng, aku kan tadi juga memaki dan menempelengnya... woles aja bro.. hahaha".

Saya paham.

  • saya tidak memahami budaya setempat.
  • saya memaknai peristiwa penempelengan itu dengan sudut pandang saya sendiri. Menganggap itu sebagai tindakan yang sangat tidak manusiawi dan melampaui batas. Pemaknaan ini memunculkan rasa marah di hati saya dan mengekspresikan/menyatakan kemarahan itu dengan menegur sang atasan.
  • Disisi lain, menurut budaya setempat (budaya di bagian produksi tersebut dimana peristiwa penempelengan itu terjadi antara si atasan dan si bawahan) tindakan tersebut adalah hal yang wajar, bahkan dianggap baik, sebagai wujud ekspresi persaudaraan yang sangat erat.
  • Ternyata pemaknaan dari sudut pandang saya pribadi dibandingkan dengan sudut pandang mereka sangatlah jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan saling bertentangan.
  • Saya tidak membenarkan budaya tersebut secara keseluruhan. Menurut saya, budaya tersebut lebih cocok diterapkan di lingkungan pergaulan, bukan di lingkungan kerja. Tapi kalau budaya itu bisa diterapkan dengan tepat tanpa adanya konflik perasaan, pastilah suasana kerja sangat menyenangkan. Disisi lain, saya juga ragu, apakah semua orang bisa menerima dan melaksanakan budaya itu tanpa muncul rasa marah?

Saat saya ditugaskan kembali di bagian divisi tersebut, saya berusaha beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Saat giliran saya terkena makian, muncul juga rasa tersinggung, tapi rasa tersinggung itu jauh lebih kecil kadarnya jika dibandingkan dengan saat saya belum memahami budaya disitu.

Awalnya setiap kedatangan saya untuk menginspeksi proses produksi di divisi tersebut suasana tiba - tiba berubah menjadi canggung. Ya, karena kehadiran saya. Kehadiran sosok yang kurang sesuai dengan budaya kerja disitu. Karena setiap mereka melemparkan candaan ke saya, saya tahu itu cuma candaan, tapi entah mengapa timbul rasa tersinggung, dan menyebabkan suasana menjadi canggung.


Lambat laun, karena saya terus merubah pemaknaan saya terhadap kejadian - kejadian yang telah dan akan muncul di lingkungan kerja divisi tersebut sesuai dengan pemaknaan dari sudut pandang mereka, akhirnya saya bisa mengimbangi budaya kerja mereka. Tidak ada canggung lagi.

Catatan : disini saya tidak membenarkan sepenuhnya budaya tersebut. Tujuan utama saya hanyalah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang ada. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Setelah mampu merubah pemaknaan kita terhadap peristiwa pemicu rasa marah, apakah itu sudah cukup untuk mengendalikan rasa marah? Belum cukup!.

Bagaimana jika rasa marah itu terlanjur membara dan menguasai hati dan pikian kita?

Bagaimana jika rasa marah itu benar. Dan memang semua orang pasti akan marah jika mengalami peristiwa pemicu rasa marah tersebut. Dalam keadaan demikian bagaimana cara meluapkan amarah yang tepat?

Akan saya bahas besok, 5 juli 2016.


Minggu, 03 Juli 2016

Mengatasi Rasa Marah

Setiap orang pasti pernah marah. Tiap orang memiliki cara yang berbeda - beda dalam mengekspresikan rasa marahnya.

Ada yang mengekspresikannya dengan berkata - kata kasar, ada yang menggunakan kekerasan fisik, ada yang memilih diam sebagai wujud kemarahannya, dll.

mengatasi rasa marah


Bagaimana dengan sobat?

Apa itu rasa marah?

Menurut kamus nih, marah itu : berang, gusar, sangat tidak senang.

Kalau rasa marah ?, rasa marah adalah : rasa yang mendorong seseorang untuk meluapkan kemarahannya.

Jadi, marah itu adalah bentuk perilakunya. Sedangkan rasa marah adalah rasa greget, rasa gusar yang ada di dalam hati kita sehingga kita ingin meluapkan kemarahan itu.

Saat seseorang merasa marah, belum tentu dia akan marah (baca : meluapkan kemarahan). Bisa jadi dia diam menahan marahnya, bisa jadi pula dia malah tersenyum karena terampil mengolah rasa marahnya dan mengubahnya menjadi senyuman.

Hal tersebut sangat tergantung dari karakter orang masing - masing. Ada yang langsung marah saat dikuasai rasa marah, ada yang pandai menahan rasa marahnya, dll. Kalau sobat maman tipe yang seperti apa?

Dari sini dapat kita simpulkan, rasa marah itu letaknya pada alam rasa, di dalam hati, sedangkan marah itu letaknya pada perilaku, bentuk peluapan rasa marah sehingga menjadi perilaku yang jelas terlihat, yaitu perilaku marah.

Jika seseorang memiliki karakter mudah marah, maka dia bisa kita sebut sebagai seorang pemarah. Orang yang memiliki akhlak marah.

Nah, dalam pembahasan ini, maman cuma sekedar membantu sobat - sobat sekalian dalam mengatasi rasa marah. Ini dapat membantu sobat agar bisa mengendalikan rasa marah itu dan tidak marah - marah dengan cara yang kurang baik.

Tapi saya tidak bermaksud untuk membantu sobat agar berubah dari seseorang yang pemarah (memiliki akhlak suka marah) menjadi bukan seorang pemarah.

Karena perilaku dan akhlak itu berbeda. Sehingga cara menanganinya pun berbeda. Silahkan klik disini "perbedaan perilaku dan akhlak" untuk penjelasan yang lebih rinci.

Setelah sobat cukup jelas dengan pengertian rasa marah dan perilaku marah serta perbedaannya, marilah kita lanjutkan untuk memahami "penyebab munculnya rasa marah"

Penyebab Munculnya Rasa Marah

Cobalah ingat - ingat saat sobat ingin marah!

Apa pemicunya?, Orang lain yang menghina sobat? Pacar yang selalu bikin masalah? Teman yang bercandanya kelewatan? Diri sobat sendiri yang melanggar prinsip - prinsip hidup sobat? Sebuah kesalah - pahaman yang seharusnya tidak perlu marah?, atau tiba - tiba mengingat sesuatu di masalalu sobat sehingga perasaan marah yang pernah terpendam muncul lagi?

Tiap orang memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda - beda, ada yang mudah marah, ada yang tidak mudah marah.

Ada orang yang mudah tersinggung jika dibohongi dari pada dihina, sebaliknya ada yang jauh akan lebih marah jika dihina daripada dibohongi.

Ada orang yang sensitif jika masalah keluarganya dibicarakan, ada orang yang lebih sensitif soal masa lalu, ada yang mudah marah dalam urusan keterlambatan, ada yang mudah marah jika disentuh kepalanya, dll. Sensitifitas tiap orang berbeda - beda.

Karena banyak sekali pemicu (baca : penyebab munculnya) rasa marah, dan tiap orang memiliki sensitifitas yang berbeda - beda terhadap pemicu rasa marah tersebut, maka tidak mungkin bagi maman untuk menjelaskannya satu per satu.

Disini maman hanya akan menjelaskan sebenarnya dari semua pemicu itu, intinya apa? sehingga seseorang terpicu amarahnya.

Intinya adalah makna. Pemaknaan dari suatu peristiwa yang muncul di pikiran kita, (baca : alam sadar kita), baik itu peristiwa yang sedang kita alami langsung saat itu, maupun hanya sebuah ingatan yang tiba - tiba begitu saja muncul di pikiran kita.

Misalnya, saat saling bercanda dengan teman, seorang teman menyentuh kepala sobat, bahkan mendorongnya ke belakang, tentunya sambil bercanda tertawa riang gembira.

Beberapa orang akan tersinggung dengan peristiwa ini. Beberapa orang akan menganggap ini sebagai sesuatu yang biasa, bahkan menganggap itu sesuatu yang baik karena bisa mempererat keakraban. Kalau sobat sendiri memaknainya seperti apa?

Di eropa barat, menanyakan keadaan keluarga cenderung dianggap tidak sopan, memicu kemarahan. Namun di benua asia, di Indonesia misalnya, menanyakan keluarga adalah salah satu topik yang baik untuk menjalin keakraban antar orang yang sedang berbicara. Demikian pula di Amerika, biasanya pembicaraan dibuka dengan menanyakan keadaan keluarga masing - masing.

Apa yang membuat berbeda? Makna.

Ternyata, di Eropa barat, keluarga adalah masalah pribadi, privasi. Menanyakan hal - hal yang bersifat privasi dimaknai sebagai tindakan tidak sopan, arogan. Sedangkan di Asia dan Amerika, hal itu justru bisa mencairkan suasana yang awalnya kaku.

Sebagai contoh lain, Menyatakan perasaan tidak suka secara terus terang, itu bagi budaya jawa dan sunda adalah sesuatu yang arogan, tidak santun, memicu kemarahan. Sedangkan bagi budaya batak, hal itu adalah hal yang wajar.

Menurut budaya jawa, jika harus menyampaikan perasaan tidak suka, maka sebaiknya disampaikan secara halus atau secara tidak langsung. Tapi bagi budaya batak penyampaian secara halus bisa dimaknai bertele - tele dan berbelit belit. (sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Saya tidak memiliki maksud untuk mengunggulkan suatu budaya dan merendahkan budaya yang lainnya. Mohon kebijaksanaan pembaca).

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa setiap manusia memiliki pemaknaan yang berbeda - beda terhadap peristwa yang sama. Ada yang menganggap suatu hal adalah wajar tetapi orang lain menganggapnya sebagai perbuatan tidak santun, dan bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai suatu kebaikan.

Setelah kita tahu bahwa yang memicu rasa marah adalah pemaknaan kita terhadap suatu peristiwa, maka tinggal kita evaluasi saja pemaknaan kita, apakah pemaknaan kita sudah tepat atau belum?.

Jika sudah tepat, kita tidak perlu mengubahnya, rasa marah yang ada itu memang wajar adanya.

Tetapi jika pemaknaan kita keliru, maka kita perlu menyesuaikannya kembali agar kelak tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana cara menilai, apakah rasa marah kita sudah tepat atau belum?

klik disini untuk melanjutkan ke halaman berikutnya


Sabtu, 02 Juli 2016

Perilaku dan Akhlak. Pengertian dan Perbedaannya

Saat saya menulis beberapa artikel tentang psikologi/ kejiwaan, seringkali saya mengalami kebingungan ditengah proses pengetikan. 

Banyak istilah - istilah/ kata yang maknanya hampir sama, atau bahkan sangat saya khawatirkan kalau istilah/kata dianggap sama oleh pembaca, padahal memiliki perbedaan yang sangat mendasar dan signifikan.

Pada kesempatan kali ini saya sekilas akan menjelaskan pengertian perilaku dan pengertian akhlak, sekaligus perbedaan diantara keduanya. Semoga tulisan ini dapat membantu pembaca. Amiin..

pengertian dan perbedaan perilaku dan akhlak


Pengertian Perilaku

Perilaku bisa disebut juga perbuatan, tindakan,tingkah, tingkah laku, aksi. sedangkan hakikat dari perilaku adalah respon terhadap stimulus atau rangsangan. 

Misalnya, ketika ada stimulus dari perut berupa rasa lapar, kita akan meresponnya/ berperilaku, yaitu dengan makan, atau menahan rasa lapar itu. 

Karena manusia tidak bisa lepas dari stimulus, baik itu stimulus dari dalam diri kita sendiri maupun stimulus yang berasal dari luar diri kita, maka bisa dikatakan bahwa setiap saat, setiap waktu, setiap detik, kita selalu berperilaku, merespon stimulus. (Diam adalah salah satu bentuk respon terhadap stimulus). 

Jadi saat kita bicara, melihat, makan, marah, menangis, tidur, berkedip, bernafas, semua itu bisa disebut perilaku.


Pengertian Akhlak

Akhlak adalah sifat, kebiasaan, kecenderungan, moral, pola seseorang dalam berperilaku. atau singkatnya, akhlak adalah perilaku yang terpola. 

Terpola artinya terjadi pengulangan yang sama dalam perilaku itu, bukan cuma pengulangan perilakunya saja, tapi gaya/model/cara berperilakunya juga sama, terpola, membentuk suatu pola yang sama. 

Contohnya, sifat bicara blak - blakan, kebiasaan nonton bareng pertandingan sepak bola, kecenderungan telat makan, moral langsung pukul ketika marah, sifat mudah menangis, dll.

Seseorang tiap hari pasti bicara, berarti bicaranya berulang - ulang dong, berarti semua orang punya moral bicara?, jawabannya : bisa jadi demikian. Namun ingat!, yang terpola bukan hanya perilakunya saja, tetapi gaya berperilakunya juga, akhlak bicara lemah lembut, akhlak bicara blak - blakan, akhlak bicara to the point, akhlak bicara seperlunya saja, akhlak tidak suka bicara /pendiam, akhlak bicara ngelantur, dll.


Perbedaan Perilaku dan Akhlak

Akhlak adalah bentuk lanjutan dari perilaku. Letak perbedaannya adalah pada Pola. 

Ketika diketahui ada seseorang yang sedang marah, kita bisa menyebut bahwa ia sedang berperilaku marah, tapi kita tidak boleh menyebutnya sebagai seorang yang punya akhlak marah/ pemarah. 

Kalaupun memang benar bahwa dia seorang pemarah/ berakhlak suka marah, berarti memang orang tersebut sering, cenderung, biasa marah, yang tentunya kemarahan itu memiliki pola tertentu baik itu cara marahnya maupun penyebab marahnya.

Secara umum, semua perilaku yang terpola bisa kita sebut akhlak. Ada istilah - istilah lain yang digunakan untuk mendiskripsikan bentuk akhlak yang lebih spesifik. Misalnya, sifat, sarakter, kepribadian, watak, kecenderungan, kebiasaan, moral, tabiat, dll.

Di lain kesempatan saya akan membahas istilah - istilah diatas, namun sesuai dengan judul artikel kali ini, saya rasa cukup sampai disini pertemuan kita. semoga bermanfaat.

Jumat, 01 Juli 2016

Mengatasi Kesedihan (bag. 3/ last)

Memahami Ulang Kesedihan Kita dengan Pikiran yang Jernih

Setiap orang mampu untuk menjernihkan pikiran mereka. Tapi setelah pikiran mereka jernih, apakah tiap orang bisa memahami masalah dengan tepat? dan tidak mengambil kesimpulan yang keliru?

memahami kesedihan dengan pikiran jernih


Jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung dari kualitas kebijaksanaan masing - masing orang.

Bagaimana dengan anda? apakah anda memiliki kualitas kebijaksanaan diri yang cukup bagus? Atau anda meragukan diri anda?

Tidak ada salahnya untuk mencoba memahami masalah anda kembali dengan pikiran jernih dan kadar kualitas kebijaksanaan anda. Sebagai pelatihan pendewasaan diri.

Sederhananya, Temuilah orang yang bijak dan dekat dengan anda. Lalu mintalah tolong padanya untuk berdiskusi tentang masalah anda. Sebenarnya cuma itu saran terbaik saya. Tapi kalau tidak ada yang bisa anda ajak diskusi, saya ada sedikit tips untuk melakukannya sendiri :

  1. Pastikan dulu pikiran anda tidak sedang dikuasai kesedihan yang baru saja anda alami.
  2. Pikirkan kembali peristiwa - peristiwa yang membuat anda sedih tadi dengan pikiran jernih itu.
  3. Bila perlu catatlah pikiran pikiran yang muncul, baik itu pikiran yang negatif maupun piiran yang positif.
  4. Diskusikanlah dengan diri anda sendiri ( dialektika), apakah pikiran pikiran yang muncul itu benar? bandingkan satu pikiran dengan pikiran yang lainnya.
  5. Bandingkan hasil pikiran anda dengan pikiran orang lain. Sayang sekali, seandainya ada orang yang bisa membimbing anda pada saat ini...
  6. Karena tidak ada rekan diskusi, cobalah bandingkan diinternet, pasti banyak saran - saran seputar masalah anda. Misalnya di blog terasmanan.blogspot.co.id ini, dll.
  7. Banding - bandingkan kembali.
  8. Setelah itu cobalah menarik kesimpulan yang baik semampu anda.
  9. Dengan mengikuti langkah 1 sampai 8 diatas memang tidak akan membuat anda sempurna memahami peristiwa kesedihan yang baru saja sobat alami, namun hasilnya pasti lebih baik dari pada tidak memikirkannya sama sekali atau memikirkannya sendiri tanpa masukan dari orang lain maupun internet.

Menerima Kenyataan dan Mengakuinya

Ini adalah tahap paling sulit.

Sepahit apapun kenyataan yang kamu dapati, jika kenyataannya memang demikian terimalah. Akuilah sebagai suatu kebenaran.

Kamu tidak akan mampu mengendarai becak dengan baik jika kamu berkhayal bahwa becakmu adalah pesawat terbang. Bahkan akan memunculkan banyak sekali masalah.

Mana yang salah? apakah becaknya yang salah? karena dia bukan pesawat terbang?

Ataukah khayalanmu yang keliru? itu BECAK bro! bukan PESAWAT TERBANG!!!

Pasti sangat berat untuk menerima kenyataan bahwa yang selama ini kamu miliki hanyalah sebuah becak. Padahal di khayalanmu, di status - status sosial mediamu, apa yang kamu bicarakan dengan teman - temanmu selama ini adalah sesuatu yang megah, pesawat terbang. Apa yang akan dikatakan orang - orang??? "hahaha.. baru nyadar kalau itu becak??"

Pahit sekali bukan??

Tidak ada yang akan berubah dengan menerima kenyataan berat itu, becakmu tetap akan menjadi becak. Yang berubah hanyalah kamu. Khayalanmu. Kamu berhenti mengira bahwa itu adalah pesawat terbang.

Dari sinilah kehidupan nyatamu dimulai. Kamu mulai benar mengendarai becakmu. Mengerti, menerima, memperlakukan, merawat, memperbaiki becakmu dengan benar.

Hidupmu akan mulai melaju, karena kamu tahu bagaimana cara mengemudikan becak hidupmu, digayuh. Bukan dengan memencet tombol Go!, kayak di film - film.

Tentu saja kamu bisa memilih untuk tidak mengakui kenyataan dan tetap berkhayal bahwa becakmu adalah pesawat. Itu pilihanmu.

Maman telah melewati keadaan super pahit ini, menerima dan mengakui kenyataan. Maman yakin kamu bisa. Tapi jika sobat lebih bahagia dengan terus berkhayal, itu hak sobat.

Maka dari itu, sejak awal maman memberikan saran untuk mencari tempat bersandar, Tuhan, dan atau orang yang dekat dan bijak. Karena sandaran ini sangat membantu anda untuk menerima kenyataan, sepahit apapun kenyataan itu.

Sampai disini saya sudah kehabisan kata - kata untuk ditulis, sempat terpikir untuk membuat suatu kata - kata motivasi, tapi saya juga khawatir kata - kata motivasi itu akan membuat anda berkhayal lagi.

Disini saya minta maaf karena saya malah membawa anda pada posisi yang lebih memberatkan hati daripada sebelum anda membaca tulisan saya ini.

Tapi percayalah, setelah anda benar - benar menerima kenyataan anda akan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam memahami peristiwa - peristiwa yang terjadi dalam hidup anda. "Sudut pandang becak", bukan sudut pandang pesawat terbang khayalan.

Perlahan hidup anda akan membaik. Walaupun tak akan sesempurna khayalan anda.

Selamat menikmati hidup.


Kamis, 30 Juni 2016

Mengatasi Kesedihan (bag. 2)

Meluapkan kesedihan dengan Tepat

Yang bisa saya katakan disini adalah, cari tempat bersandar. Masjid, Gereja, Pura, Vihara (sesuaikan dengan agama anda), atau pada seseorang yang bersedia mendengar segala kesedihan anda ( ibu, ayah, saudara, sahabat), semakin bijak orang tersebut semakin baik.
  • menangislah jika ingin menangis,
  • Sekeras - kerasnya,
  • marahlah, berteriaklah, 
  • jika itu bisa meluapkan kesedihanmu, lakukanlah.
  • Tapi ingat, semua itu hanya untuk membuang kepiluan di dalam hati anda.
meluapkan kesedihan dengan tepat


Perasaan tak pernah salah. Jika ingin bersedih, bersedihlah. Luapkan kesedihanmu dengan tepat.

Mungkin sobat berpikir bahwa kesedihan itu tidak boleh dimunculkan, apalagi sampai menangis. Itu keliru. 

Semua perasaan kita itu sama halnya dengan perasaan lapar, harus segera dipuaskan. Tentunya dengan cara yang tepat.

 Seperti makan makanan yang sehat, halal, cara makan yang baik, tidak berlebihan, disesuaikan dengan keadaan tubuh yang mungkin memiliki pantangan tertentu terhadap suatu makanan, disesuaikan dengan keadaan dompet, dll. Sehingga perasaan lapar itu dapat terpenuhi tanpa memunculkan efek samping yang merusak.

Demikian pula dengan perasaan kesedihan yang sedang sobat alami. Perasaan itu harus dipuaskan dengan tepat.

Jika tidak terpuaskan, perasaan itu akan terpendam di alam bawah sadar sobat. Jika yang terpendam itu adalah perasaan yang baik, yang konstruktif, yang positif tidak masalah.

 Tapi ini adalah kesedihan, perasaan yang cenderung negatif, yang jika salah menyikapinya dan terpendam ke alam bawah sadar sobat, apalagi jika disertai dengan kesimpulan - kesimpulan yang keliru, maka kesedihan ini sangat berpotensi untuk berkembang menjadi perasaan - perasaan lain yang bersifat agresif dan merusak. Misalkan berubah menjadi perasaan dendam, marah, keputus-asaan, kebencian, dll.

Sampai disini kita bisa menyimpulkan bahwa kesedihan itu harus dipuaskan. Dengan tepat tentunya.

Tapi bagai mana cara memuaskan kesedihan yang tepat itu?

Apakah dengan menghukum diri seniri? bunuh diri misalnya. Atau apakah dengan menyalahkan orang lain kemudian menghukumnya? Atau dengan menghambur - hamburkan uang anda untuk mencari hiburan agar lupa dengan kesedihan itu? atau cara yang seperti apa?

Sebagaimana yang saya sampaikan sejak awal, bahwa saat kita sedang sedih, berarti diri kita sedang dikuasai oleh perasaan yang kuat, yaitu perasaan kesedihan. Otomatis kejernihan kita dalam berpikir sedikit terganggu atau bahkan kejernihan itu hilang samasekali.

Saran terbaik yang bisa maman berikan adalah mencari tempat bersandar yang positif, tempat menyerukan segala kesedihan anda. Tuhan.

Selain itu, anda juga butuh tempat sandaran yang bisa memberikan masukan secara langsung kepada anda tentang kesedihan yang sedang anda alami. Orang terdekat dan terbijak yang bisa anda jadikan tempat curhat.

Kehadiran orang dekat dan bijak ini sangat penting, karena :
  • Beliau dapat membantumu untuk meluapkan perasaan sedihmu dengan tepat.
  • Beliau dapat memberikan masukan - masukan yang baik kepada sobat, sambil sobat meluapkan kesedihan sobat.
sebenarnya orang terdekat dan terbijak ini sangat penting, sebegitu pentingnya sehingga saya berani mengatakan bahwa "jika kualitas kebijaksanaan orang tersebut cukup bagus, maka anda tidak perlu melanjutkan membaca tulisan saya ini. Datanglah padanya, sampaikan keluh kesah kesedihanmu, pasti dia akan membantumu mengatasi rasa kesedihanmu dengan tepat. Semakin berkualitas kebijaksanaannya maka semakin berkualitas pula solusi yang beliau berikan."

  •  Otomatis kesimpulan - kesimpulan negatif yang mungkin muncul selama anda bersedih akan terminimalisir berkat nasehat beliau.
  • Serta, sobat akan dibantu untuk memahami kesedihan secara bijak, baik itu peristiwa pemicu kesedihannya, perasaan kesedihan itu sendiri, serta menjawab kekhawatiran - kekhawatiran sobat yang akan terjadi setelah peristiwa menyedihkan ini.
Namun beberapa diantara kita mungkin kesulitan menemukan sosok yang demikian.
  • Ada orang terdekat, sahabat karib misalnya, tapi kualitas kebijaksanaannya masih kurang. Sehingga dia cuma bisa menjadi tempat meluapkan kesedihan anda, tanpa mampu memberikan masukan - masukan yang tepat. Justru malah dia ikut - ikutan emosi, marah, mengambil kesimpulan yang keliru tentang kesedihan anda.
sahabat karib anda ini masih bisa anda jadikan teman curhat, (dari pada tidak ada tempat untuk meluapkan kesedihan), tapi anda juga perlu berhati - hati agar kalian berdua tidak mengambil kesimpulan - kesimpulan yang keliru.
  • Ada orang yang cukup bijak, tapi kurang dekat dengan anda. Mungkin orang tersebut kurang berminat untuk mendengarkan curhatan anda, atau bahkan orang tersebut mau mendengarkan curhatan anda karena itu menarik untuk diceritakan ke orang lain. Secara naluriah sobatpun akan menghindari untuk curhat pada orang yang dmikian.
  • Namun jika anda tidak menemukan satupun orang yang menurut anda cocok untuk curhat, maka selesaikanlah kesedihan anda sendiri. 
  • Jangan lupa, masih ada Tuhan yang selalu mendengarkan setiap jeritan sedihmu. Meskipun kamu tidak dapat mendengarkan saran - saran darinya. 
Menangislah, menyerulah padaNya tentang kesedihanmu jika sedih itu tak tertahankan. Setelah puas menyeru padaNya, emosi kesedihanmu akan mereda dan perlahan pikiran jernihmu akan kembali.

Pikiran jernih inilah yang diperlukan untuk memahami ulang kesedihan anda dengan bijak.

Kenapa perlu dipahami ulang? Karena anda belum punya kesimpulan apapun tentang kesedihan anda.
Kalaupun sobat memiliki suatu pemahaman/ kesimpulan tentang kesedihan anda ini, itu adalah kesimpulan yang diambil saat pikiran anda kurang jernih (baca : dikuasai emosi kesedihan).

Kalau sobat melupakan pemahaman ulang tentang kesedihan anda ini, itu berarti juga anda belum selesai mengatasi kesedihan anda. 

Suatu saat, tanpa disengaja anda akan teringat dengan kesedihan ini. Anda akan mengalami kesedihan yang sama, padahal tidak ada peristiwa nyata yang memicunya.

Contoh :
 Setelah seminggu anda bersedih dan belum tuntas mengatasi kesedihan anda, tiba - tiba orang yang anda sukai (pada contoh kasus sebelumya), menelpon anda dan mengatakan bahwa hubungan percintaannya sedang renggang dengan teman anda (si tukang tikung tadi).
Pasti sobat akan galau lagi, baper lagi. Eh.... pas lagi berharap - berharapnya (berharap mereka putus), ternyata sobat melihat mereka bercanda dengan sangat mesra seperti baru jadian. Patah hati lagi, baper lagi, sedih lagi, nangis lagi, gak akur sama teman lagi, dll.

Tapi coba bayangkan jika sebelum contoh diatas terulang lagi dan lagi, Sobat maman yang budiman ini telah mendudukkan permasalahan dengan tepat, walaupun masih sedih lagi, baper lagi, tapi perasaan itu pasti jauh lebih terkontrol.
Jadi bagaimana dong man caranya agar kesedihan itu suatu saat tidak muncul lagi??

Kesedihan itu pasti muncul lagi, namun jika kita bisa memahami kesedihan kita dengan tepat kesedihan itu hanya muncul sebatas suatu kenangan masa lalu yang semakin mendewasakan kita. Bukan sebagai perasaan pekat yang menyakitkan.

Bagaimana caranya agar bisa memahami kesedihan dengan tepat??

Butuh pikiran yang jernih.

Cara Memahami Ulang Kesedihan Kita dengan Pikiran yang Jernih.

Tunggu Tulisan saya berikutnya, besok 1 juli 2016.  Eh ini sudah 1 juli 2016... barusan ane upload, klik "mengatasi kesedihan bagian 3/ last"

atau klik disini untuk kembali membaca 'mengatasi kesedihan bag. 1'