Senin, 04 Juli 2016

Mengatasi Rasa Marah Bag. 2

Menilai Pemaknaan, Sudah Tepat atau Belum? dan Cara Merubahnya


Bicara soal menilai, berarti kita bicara soal acuan dalam untuk menilai, standard nilai. Yang kita anggap tepat belum tetap bagi orang lain. Tergantung standard nilai masing - masing.

Ada yang menggunakan kebebasan sebagai acuan menilai baik - buruk, ada yang menggunakan acuan agama islam, ada pula yang menggunakan acuan agama kristen. ada juga yang menggunakan budaya jawa sebagai acuan, budaya batak, budaya sunda, budaya barat, budaya islam, dll.

Disini saya tidak memperdebatkan mana yang baik dan mana yang buruk diantara acuan - acuan itu.

Tapi kita tetap butuh suatu acuan untuk menilai 'apakah pemaknaan kita sudah tepat atau belum".

Karena berbeda lingkungan maka berbeda budaya, berbeda pula acuannya dalam menilai, maka saya menggunakan budaya setempat sebagai acuan.

Jadi misalkan sobat berada di lingkungan berbudaya jawa, maka gunakanlah nilai - nilai jawa sebagai acuan. Demikian pula jika sobat berada di lingkungan berbudaya batak, sunda, berbudaya islami, berbudaya hindu, maka sobat harus menyesuaikan diri. Dan jika budaya di lingkungan sobat berlaku nilai - nilai campuran antara nilai jawa dan nilai islami maka sobat pun harus pandai - pandai memahami nilai campuran tersebut.

mengatasi rasa marah 2


Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Desa mawa cara negara mawa tata.

Agar pembahasan tidak melebar, disini saya tidak membahas bagaimana cara memahami nilai suatu budaya dengan tepat. Jadi saya anggap sobat maman sekalian telah lama berada di lingkungan tersebut dan telah paham betul bagaimana budaya di lingkungan yang sedang sobat tinggali.

Ringkas saja, berikut langkah - langkah menilai pemaknaan kita terhadap peristiwa pemicu rasa marah :

  1. Pahami dulu budaya setempat
  2. Ingat kembali peristiwa yang memicu rasa marah sobat
  3. Pahami kembali pemaknaan sobat terhadap peristiwa yang memicu rasa marah tersebut
  4. Bandingkan dengan budaya setempat, bagaimana jika orang lain (di lingkungan sobat) mengalami peristiwa yang sobat alami? Bagaimana pemaknaannya terhadap peristiwa tersebut?
  5. Apakah sama pemaknaannya sama dengan pemaknaan sobat? ataukah jauh berbeda? Semakin banyak kesamaannya semakin tepat pemaknaan sobat, sebaliknya semakin banyak perbedaannya maka semakin tidak tepat pemaknaan sobat.
  6. Jika pemaknaan sobat banyak yang berbeda, sebisa mungkin rubahlah pemaknaan sobat agar sesuai dengan budaya setempat. Tujuan utama dari perubahan makna tersebut adalah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, agar tidak terjadi perselisihan.
Untuk selanjutnya, apakah sobat menganggap pemaknaan awal sobat sebagai sesuatu yang keliru dan pemaknaan baru sobat tersebut sebagai sesuatu yang benar, atau apakah sobat menganggap pemaknaan awal sobat adalah suatu kebenaran etika dan budaya lingkungan setempat kurang beretika, ITU TERSERAH SOBAT.
Yang penting anda wajib beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana sobat hidup. Lain ladang lain belalang. Atau sobat akan terus - terusan dianggap buruk bahkan dimusuhi oleh masyarakat setempat, tapi kalau hal ini bukan suatu masalah bagi sobat, maka terserah sobat.
Baiklah untuk memperjelas langkah langkah diatas, mari kita simak contoh singkat berikut : (terinspirasi oleh pengalaman pribadi)

Pekerjaan utama saya adalah sebagai seorang QC (quality control) di perusahaan X. Di situ saya termasuk karyawan baru. Suatu ketika, saat saya melaksanakan tugas di salah satu bagian produksi, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, seorang atasan memarahi dan menempeleng kepala (mengenakan helm) bawahannya, entah apa sebabnya.

Walaupun itu tidak keras, saya sangat terkejut dengan kejadian itu. Setelah itu, entah apa yang ada dipikiran bawahan tersebut, dia pergi meninggalkan lokasi kerja.

Saya tidak terima dengan pemandangan itu, kemudian langsung menemui sang atasan. Setelah menjelaskan pemaknaan saya terhadap peristiwa penempelengan itu dengan tegas saya menyuruhnya minta maaf.

Tanpa banyak melawan, sang atasan itu mengiyakan permintaan saya. Eh setelah bawahan tadi datang, tiba - tiba ganti bawahan tersebut yang memarahi atasannya, "anjing lo, ngasih tugas yang bener dong, kalo kayak gini gimana ngambilnya??" sambil menudingkan telunjuknya ke muka sang atasan kemudian. menempeleng atasan terebut.

Dan mereka berdua tertawa terbahak - bahak bersama, layaknya seorang sahabat.

Aneh bukan?

Tidak ada yang aneh.

Setelah selang beberapa waktu, saya bertanya ke sang bawahan, "bro, kamu gak marah ditempeleng tadi?", tentunya tanpa sepengetahuaan si atasan.

"Hahaha.. kamu sok tahu bro, tadi si M (nama atasannya) juga cerita kalo kamu negur dia...", jawab si bawahan dengan tertawa bersahabat, "disini kita semua saudara, karena sangat akrab, kalau ada kesalahan ya begitu, maki - maki sampai menempeleng, aku kan tadi juga memaki dan menempelengnya... woles aja bro.. hahaha".

Saya paham.

  • saya tidak memahami budaya setempat.
  • saya memaknai peristiwa penempelengan itu dengan sudut pandang saya sendiri. Menganggap itu sebagai tindakan yang sangat tidak manusiawi dan melampaui batas. Pemaknaan ini memunculkan rasa marah di hati saya dan mengekspresikan/menyatakan kemarahan itu dengan menegur sang atasan.
  • Disisi lain, menurut budaya setempat (budaya di bagian produksi tersebut dimana peristiwa penempelengan itu terjadi antara si atasan dan si bawahan) tindakan tersebut adalah hal yang wajar, bahkan dianggap baik, sebagai wujud ekspresi persaudaraan yang sangat erat.
  • Ternyata pemaknaan dari sudut pandang saya pribadi dibandingkan dengan sudut pandang mereka sangatlah jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan saling bertentangan.
  • Saya tidak membenarkan budaya tersebut secara keseluruhan. Menurut saya, budaya tersebut lebih cocok diterapkan di lingkungan pergaulan, bukan di lingkungan kerja. Tapi kalau budaya itu bisa diterapkan dengan tepat tanpa adanya konflik perasaan, pastilah suasana kerja sangat menyenangkan. Disisi lain, saya juga ragu, apakah semua orang bisa menerima dan melaksanakan budaya itu tanpa muncul rasa marah?

Saat saya ditugaskan kembali di bagian divisi tersebut, saya berusaha beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Saat giliran saya terkena makian, muncul juga rasa tersinggung, tapi rasa tersinggung itu jauh lebih kecil kadarnya jika dibandingkan dengan saat saya belum memahami budaya disitu.

Awalnya setiap kedatangan saya untuk menginspeksi proses produksi di divisi tersebut suasana tiba - tiba berubah menjadi canggung. Ya, karena kehadiran saya. Kehadiran sosok yang kurang sesuai dengan budaya kerja disitu. Karena setiap mereka melemparkan candaan ke saya, saya tahu itu cuma candaan, tapi entah mengapa timbul rasa tersinggung, dan menyebabkan suasana menjadi canggung.


Lambat laun, karena saya terus merubah pemaknaan saya terhadap kejadian - kejadian yang telah dan akan muncul di lingkungan kerja divisi tersebut sesuai dengan pemaknaan dari sudut pandang mereka, akhirnya saya bisa mengimbangi budaya kerja mereka. Tidak ada canggung lagi.

Catatan : disini saya tidak membenarkan sepenuhnya budaya tersebut. Tujuan utama saya hanyalah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang ada. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Setelah mampu merubah pemaknaan kita terhadap peristiwa pemicu rasa marah, apakah itu sudah cukup untuk mengendalikan rasa marah? Belum cukup!.

Bagaimana jika rasa marah itu terlanjur membara dan menguasai hati dan pikian kita?

Bagaimana jika rasa marah itu benar. Dan memang semua orang pasti akan marah jika mengalami peristiwa pemicu rasa marah tersebut. Dalam keadaan demikian bagaimana cara meluapkan amarah yang tepat?

Akan saya bahas besok, 5 juli 2016.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar