Minggu, 03 Juli 2016

Mengatasi Rasa Marah

Setiap orang pasti pernah marah. Tiap orang memiliki cara yang berbeda - beda dalam mengekspresikan rasa marahnya.

Ada yang mengekspresikannya dengan berkata - kata kasar, ada yang menggunakan kekerasan fisik, ada yang memilih diam sebagai wujud kemarahannya, dll.

mengatasi rasa marah


Bagaimana dengan sobat?

Apa itu rasa marah?

Menurut kamus nih, marah itu : berang, gusar, sangat tidak senang.

Kalau rasa marah ?, rasa marah adalah : rasa yang mendorong seseorang untuk meluapkan kemarahannya.

Jadi, marah itu adalah bentuk perilakunya. Sedangkan rasa marah adalah rasa greget, rasa gusar yang ada di dalam hati kita sehingga kita ingin meluapkan kemarahan itu.

Saat seseorang merasa marah, belum tentu dia akan marah (baca : meluapkan kemarahan). Bisa jadi dia diam menahan marahnya, bisa jadi pula dia malah tersenyum karena terampil mengolah rasa marahnya dan mengubahnya menjadi senyuman.

Hal tersebut sangat tergantung dari karakter orang masing - masing. Ada yang langsung marah saat dikuasai rasa marah, ada yang pandai menahan rasa marahnya, dll. Kalau sobat maman tipe yang seperti apa?

Dari sini dapat kita simpulkan, rasa marah itu letaknya pada alam rasa, di dalam hati, sedangkan marah itu letaknya pada perilaku, bentuk peluapan rasa marah sehingga menjadi perilaku yang jelas terlihat, yaitu perilaku marah.

Jika seseorang memiliki karakter mudah marah, maka dia bisa kita sebut sebagai seorang pemarah. Orang yang memiliki akhlak marah.

Nah, dalam pembahasan ini, maman cuma sekedar membantu sobat - sobat sekalian dalam mengatasi rasa marah. Ini dapat membantu sobat agar bisa mengendalikan rasa marah itu dan tidak marah - marah dengan cara yang kurang baik.

Tapi saya tidak bermaksud untuk membantu sobat agar berubah dari seseorang yang pemarah (memiliki akhlak suka marah) menjadi bukan seorang pemarah.

Karena perilaku dan akhlak itu berbeda. Sehingga cara menanganinya pun berbeda. Silahkan klik disini "perbedaan perilaku dan akhlak" untuk penjelasan yang lebih rinci.

Setelah sobat cukup jelas dengan pengertian rasa marah dan perilaku marah serta perbedaannya, marilah kita lanjutkan untuk memahami "penyebab munculnya rasa marah"

Penyebab Munculnya Rasa Marah

Cobalah ingat - ingat saat sobat ingin marah!

Apa pemicunya?, Orang lain yang menghina sobat? Pacar yang selalu bikin masalah? Teman yang bercandanya kelewatan? Diri sobat sendiri yang melanggar prinsip - prinsip hidup sobat? Sebuah kesalah - pahaman yang seharusnya tidak perlu marah?, atau tiba - tiba mengingat sesuatu di masalalu sobat sehingga perasaan marah yang pernah terpendam muncul lagi?

Tiap orang memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda - beda, ada yang mudah marah, ada yang tidak mudah marah.

Ada orang yang mudah tersinggung jika dibohongi dari pada dihina, sebaliknya ada yang jauh akan lebih marah jika dihina daripada dibohongi.

Ada orang yang sensitif jika masalah keluarganya dibicarakan, ada orang yang lebih sensitif soal masa lalu, ada yang mudah marah dalam urusan keterlambatan, ada yang mudah marah jika disentuh kepalanya, dll. Sensitifitas tiap orang berbeda - beda.

Karena banyak sekali pemicu (baca : penyebab munculnya) rasa marah, dan tiap orang memiliki sensitifitas yang berbeda - beda terhadap pemicu rasa marah tersebut, maka tidak mungkin bagi maman untuk menjelaskannya satu per satu.

Disini maman hanya akan menjelaskan sebenarnya dari semua pemicu itu, intinya apa? sehingga seseorang terpicu amarahnya.

Intinya adalah makna. Pemaknaan dari suatu peristiwa yang muncul di pikiran kita, (baca : alam sadar kita), baik itu peristiwa yang sedang kita alami langsung saat itu, maupun hanya sebuah ingatan yang tiba - tiba begitu saja muncul di pikiran kita.

Misalnya, saat saling bercanda dengan teman, seorang teman menyentuh kepala sobat, bahkan mendorongnya ke belakang, tentunya sambil bercanda tertawa riang gembira.

Beberapa orang akan tersinggung dengan peristiwa ini. Beberapa orang akan menganggap ini sebagai sesuatu yang biasa, bahkan menganggap itu sesuatu yang baik karena bisa mempererat keakraban. Kalau sobat sendiri memaknainya seperti apa?

Di eropa barat, menanyakan keadaan keluarga cenderung dianggap tidak sopan, memicu kemarahan. Namun di benua asia, di Indonesia misalnya, menanyakan keluarga adalah salah satu topik yang baik untuk menjalin keakraban antar orang yang sedang berbicara. Demikian pula di Amerika, biasanya pembicaraan dibuka dengan menanyakan keadaan keluarga masing - masing.

Apa yang membuat berbeda? Makna.

Ternyata, di Eropa barat, keluarga adalah masalah pribadi, privasi. Menanyakan hal - hal yang bersifat privasi dimaknai sebagai tindakan tidak sopan, arogan. Sedangkan di Asia dan Amerika, hal itu justru bisa mencairkan suasana yang awalnya kaku.

Sebagai contoh lain, Menyatakan perasaan tidak suka secara terus terang, itu bagi budaya jawa dan sunda adalah sesuatu yang arogan, tidak santun, memicu kemarahan. Sedangkan bagi budaya batak, hal itu adalah hal yang wajar.

Menurut budaya jawa, jika harus menyampaikan perasaan tidak suka, maka sebaiknya disampaikan secara halus atau secara tidak langsung. Tapi bagi budaya batak penyampaian secara halus bisa dimaknai bertele - tele dan berbelit belit. (sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Saya tidak memiliki maksud untuk mengunggulkan suatu budaya dan merendahkan budaya yang lainnya. Mohon kebijaksanaan pembaca).

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa setiap manusia memiliki pemaknaan yang berbeda - beda terhadap peristwa yang sama. Ada yang menganggap suatu hal adalah wajar tetapi orang lain menganggapnya sebagai perbuatan tidak santun, dan bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai suatu kebaikan.

Setelah kita tahu bahwa yang memicu rasa marah adalah pemaknaan kita terhadap suatu peristiwa, maka tinggal kita evaluasi saja pemaknaan kita, apakah pemaknaan kita sudah tepat atau belum?.

Jika sudah tepat, kita tidak perlu mengubahnya, rasa marah yang ada itu memang wajar adanya.

Tetapi jika pemaknaan kita keliru, maka kita perlu menyesuaikannya kembali agar kelak tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana cara menilai, apakah rasa marah kita sudah tepat atau belum?

klik disini untuk melanjutkan ke halaman berikutnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar