Kamis, 30 Juni 2016

Mengatasi Kesedihan (bag. 2)

Meluapkan kesedihan dengan Tepat

Yang bisa saya katakan disini adalah, cari tempat bersandar. Masjid, Gereja, Pura, Vihara (sesuaikan dengan agama anda), atau pada seseorang yang bersedia mendengar segala kesedihan anda ( ibu, ayah, saudara, sahabat), semakin bijak orang tersebut semakin baik.
  • menangislah jika ingin menangis,
  • Sekeras - kerasnya,
  • marahlah, berteriaklah, 
  • jika itu bisa meluapkan kesedihanmu, lakukanlah.
  • Tapi ingat, semua itu hanya untuk membuang kepiluan di dalam hati anda.
meluapkan kesedihan dengan tepat


Perasaan tak pernah salah. Jika ingin bersedih, bersedihlah. Luapkan kesedihanmu dengan tepat.

Mungkin sobat berpikir bahwa kesedihan itu tidak boleh dimunculkan, apalagi sampai menangis. Itu keliru. 

Semua perasaan kita itu sama halnya dengan perasaan lapar, harus segera dipuaskan. Tentunya dengan cara yang tepat.

 Seperti makan makanan yang sehat, halal, cara makan yang baik, tidak berlebihan, disesuaikan dengan keadaan tubuh yang mungkin memiliki pantangan tertentu terhadap suatu makanan, disesuaikan dengan keadaan dompet, dll. Sehingga perasaan lapar itu dapat terpenuhi tanpa memunculkan efek samping yang merusak.

Demikian pula dengan perasaan kesedihan yang sedang sobat alami. Perasaan itu harus dipuaskan dengan tepat.

Jika tidak terpuaskan, perasaan itu akan terpendam di alam bawah sadar sobat. Jika yang terpendam itu adalah perasaan yang baik, yang konstruktif, yang positif tidak masalah.

 Tapi ini adalah kesedihan, perasaan yang cenderung negatif, yang jika salah menyikapinya dan terpendam ke alam bawah sadar sobat, apalagi jika disertai dengan kesimpulan - kesimpulan yang keliru, maka kesedihan ini sangat berpotensi untuk berkembang menjadi perasaan - perasaan lain yang bersifat agresif dan merusak. Misalkan berubah menjadi perasaan dendam, marah, keputus-asaan, kebencian, dll.

Sampai disini kita bisa menyimpulkan bahwa kesedihan itu harus dipuaskan. Dengan tepat tentunya.

Tapi bagai mana cara memuaskan kesedihan yang tepat itu?

Apakah dengan menghukum diri seniri? bunuh diri misalnya. Atau apakah dengan menyalahkan orang lain kemudian menghukumnya? Atau dengan menghambur - hamburkan uang anda untuk mencari hiburan agar lupa dengan kesedihan itu? atau cara yang seperti apa?

Sebagaimana yang saya sampaikan sejak awal, bahwa saat kita sedang sedih, berarti diri kita sedang dikuasai oleh perasaan yang kuat, yaitu perasaan kesedihan. Otomatis kejernihan kita dalam berpikir sedikit terganggu atau bahkan kejernihan itu hilang samasekali.

Saran terbaik yang bisa maman berikan adalah mencari tempat bersandar yang positif, tempat menyerukan segala kesedihan anda. Tuhan.

Selain itu, anda juga butuh tempat sandaran yang bisa memberikan masukan secara langsung kepada anda tentang kesedihan yang sedang anda alami. Orang terdekat dan terbijak yang bisa anda jadikan tempat curhat.

Kehadiran orang dekat dan bijak ini sangat penting, karena :
  • Beliau dapat membantumu untuk meluapkan perasaan sedihmu dengan tepat.
  • Beliau dapat memberikan masukan - masukan yang baik kepada sobat, sambil sobat meluapkan kesedihan sobat.
sebenarnya orang terdekat dan terbijak ini sangat penting, sebegitu pentingnya sehingga saya berani mengatakan bahwa "jika kualitas kebijaksanaan orang tersebut cukup bagus, maka anda tidak perlu melanjutkan membaca tulisan saya ini. Datanglah padanya, sampaikan keluh kesah kesedihanmu, pasti dia akan membantumu mengatasi rasa kesedihanmu dengan tepat. Semakin berkualitas kebijaksanaannya maka semakin berkualitas pula solusi yang beliau berikan."

  •  Otomatis kesimpulan - kesimpulan negatif yang mungkin muncul selama anda bersedih akan terminimalisir berkat nasehat beliau.
  • Serta, sobat akan dibantu untuk memahami kesedihan secara bijak, baik itu peristiwa pemicu kesedihannya, perasaan kesedihan itu sendiri, serta menjawab kekhawatiran - kekhawatiran sobat yang akan terjadi setelah peristiwa menyedihkan ini.
Namun beberapa diantara kita mungkin kesulitan menemukan sosok yang demikian.
  • Ada orang terdekat, sahabat karib misalnya, tapi kualitas kebijaksanaannya masih kurang. Sehingga dia cuma bisa menjadi tempat meluapkan kesedihan anda, tanpa mampu memberikan masukan - masukan yang tepat. Justru malah dia ikut - ikutan emosi, marah, mengambil kesimpulan yang keliru tentang kesedihan anda.
sahabat karib anda ini masih bisa anda jadikan teman curhat, (dari pada tidak ada tempat untuk meluapkan kesedihan), tapi anda juga perlu berhati - hati agar kalian berdua tidak mengambil kesimpulan - kesimpulan yang keliru.
  • Ada orang yang cukup bijak, tapi kurang dekat dengan anda. Mungkin orang tersebut kurang berminat untuk mendengarkan curhatan anda, atau bahkan orang tersebut mau mendengarkan curhatan anda karena itu menarik untuk diceritakan ke orang lain. Secara naluriah sobatpun akan menghindari untuk curhat pada orang yang dmikian.
  • Namun jika anda tidak menemukan satupun orang yang menurut anda cocok untuk curhat, maka selesaikanlah kesedihan anda sendiri. 
  • Jangan lupa, masih ada Tuhan yang selalu mendengarkan setiap jeritan sedihmu. Meskipun kamu tidak dapat mendengarkan saran - saran darinya. 
Menangislah, menyerulah padaNya tentang kesedihanmu jika sedih itu tak tertahankan. Setelah puas menyeru padaNya, emosi kesedihanmu akan mereda dan perlahan pikiran jernihmu akan kembali.

Pikiran jernih inilah yang diperlukan untuk memahami ulang kesedihan anda dengan bijak.

Kenapa perlu dipahami ulang? Karena anda belum punya kesimpulan apapun tentang kesedihan anda.
Kalaupun sobat memiliki suatu pemahaman/ kesimpulan tentang kesedihan anda ini, itu adalah kesimpulan yang diambil saat pikiran anda kurang jernih (baca : dikuasai emosi kesedihan).

Kalau sobat melupakan pemahaman ulang tentang kesedihan anda ini, itu berarti juga anda belum selesai mengatasi kesedihan anda. 

Suatu saat, tanpa disengaja anda akan teringat dengan kesedihan ini. Anda akan mengalami kesedihan yang sama, padahal tidak ada peristiwa nyata yang memicunya.

Contoh :
 Setelah seminggu anda bersedih dan belum tuntas mengatasi kesedihan anda, tiba - tiba orang yang anda sukai (pada contoh kasus sebelumya), menelpon anda dan mengatakan bahwa hubungan percintaannya sedang renggang dengan teman anda (si tukang tikung tadi).
Pasti sobat akan galau lagi, baper lagi. Eh.... pas lagi berharap - berharapnya (berharap mereka putus), ternyata sobat melihat mereka bercanda dengan sangat mesra seperti baru jadian. Patah hati lagi, baper lagi, sedih lagi, nangis lagi, gak akur sama teman lagi, dll.

Tapi coba bayangkan jika sebelum contoh diatas terulang lagi dan lagi, Sobat maman yang budiman ini telah mendudukkan permasalahan dengan tepat, walaupun masih sedih lagi, baper lagi, tapi perasaan itu pasti jauh lebih terkontrol.
Jadi bagaimana dong man caranya agar kesedihan itu suatu saat tidak muncul lagi??

Kesedihan itu pasti muncul lagi, namun jika kita bisa memahami kesedihan kita dengan tepat kesedihan itu hanya muncul sebatas suatu kenangan masa lalu yang semakin mendewasakan kita. Bukan sebagai perasaan pekat yang menyakitkan.

Bagaimana caranya agar bisa memahami kesedihan dengan tepat??

Butuh pikiran yang jernih.

Cara Memahami Ulang Kesedihan Kita dengan Pikiran yang Jernih.

Tunggu Tulisan saya berikutnya, besok 1 juli 2016.  Eh ini sudah 1 juli 2016... barusan ane upload, klik "mengatasi kesedihan bagian 3/ last"

atau klik disini untuk kembali membaca 'mengatasi kesedihan bag. 1'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar